Teks: Fadly Zakaria.M
Mengambil kutipan tagline yang selalu digaungkan dan nempel di kepala dari event Synchronize Festival yaitu “Lokal Lebih Vokal” memang takkan pernah mati. Ratusan karya-karya super keren dari band/musisi lokal telah tercipta setiap tahun dan terkirim melalui surel yang saya terima. Tingkat produktivitas sangat luar biasa.
Meskipun banyak sekali yang terlewat untuk diulas, namun, saya telah mengkurasi semuanya dalam pilihan Terbaik-Terbaik 2025. Go check this out, Fren!
1. 510 – Spiritual
Kesuksesan unit modern rock satu ini membuat saya kagum. Gempuran masif di setiap tahunnya selalu tertata rapi. Lewat EP ‘Spiritual’, 510 melanjutkan agenda besarnya dalam rangkuman kerinduan cerita masa lalu hingga mengangkat isu besar keserakahan yang terjadi di dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Segala departemen produksi albumnya pun saya acungi jempol. Segan luar biasa!
2. ASHN – Waves in Two
Debut album beratmosfer muram tentang pergulatan batin yang tumpah ruah dalam lapisan musik shoegaze/rock. Lahirnya ‘Waves in Two’ sebagai penanda bentuk keseriusan ASHN (Baca: ash-en) untuk menjangkau eksistensinya lebih luas. Selipan kolaborasi instrumen elektronik bareng Ftlframe pada trek ‘Endless’ cukup ampuh menggabungkan diantara sisi melankolis dan eksperimental yang catchy. ASHN berani mendorong batasan genre yang mereka pijak.
3. Bin Idris – III
Setelah kembali merilis album baru bersama band ghaib-nya, Sigmun, pada tahun 2024, Haikal Azizi atau Bin Idris melepas karya proyek solo berjudul ‘III’ dalam format digital dan kaset tape. Album yang sangat personal berbicara tentang hidup berumah tangga sekaligus menjadi suami. Bentuk refleksi dari segala catatan yang diakumulasi secara bertahun-tahun melalui 13 trek dengan pendekatan minimalis dan atmosferik.
4. Biru Baru – BIRU
Duo grup yang selalu menjadi sorotan saya adalah Biru Baru. Perkenalan mereka di tahun ini dengan ‘Kalah Lagi’ memang tepat sasaran. Namun jangan salah, masih ada 7 trek kompleks pada album ‘BIRU’ yang datang dengan potret sebuah kejujuran diantara kecemasan, penerimaan diri, hingga kebangkitan hidup dari kegagalan. Poin utama yang saya suka tidak lain dan bukan ketika mereka selalu berhasil menyelipkan elemen elektronik yang catchy. Nggak lebay, sesuai porsi saja.
5. Hursa – Daur
Merasuki karya Hursa tidak lupa dengan kesan surealis sampul ‘Katarsis’ pada 2021 lalu, serta musikalitas yang cukup berani membawa komposisi alt-rock yang unik. Semua konsep tersebut masih ditampilkan pada EP terbaru ‘Daur’ dengan latar sebuah luapan narasi emosional dari siklus perjalanan setiap personal. Jujur, progresi musiknya semakin menggila. Segan!
6. Radioshifter – Kontras
Kali pertama mendengar ‘Klise’, sepertinya saya langsung nge-klik dengan mereka. Sesederhana bagaimana mencerna satu trek penuh dan mengulangnya beberapa kali. Kemudian tancap gas streaming tiga trek lainnya dalam EP ‘Kontras’ yang membawa warna alt-rock bernuansa 90-an. Nggak heran kalo radioshifter ditunjuk mewakili kota Palembang untuk mendapat kesempatan berada di event Soundrenaline 2025.
7. Reruntuh – Nyala Langit Jingga
Saya masih mengingat Reruntuh sangat menghipnotis ketika menjadi showcase pembuka album Memorandum dari Perunggu di M Bloc Live House. Benar-benar memukau. Tahun ini, Eky Rizkani dengan proyek solo bermusiknya Reruntuh melanjutkan ide brilian lewat album penuh ketiga ‘Nyala Langit Jingga’. Eksplorasi bebunyian instrumen terasa lebih luas hingga berani memasukkan elemen folk. Tangkapan visualnya pun berhasil menafsirkan secerca harapan besar di tengah gurun pasir.
8. Rrag – Langit
Debut album memang selalu menjadi poros atas identitas sebuah band. ‘Langit’-pun menurut saya berhasil tersampaikan dengan baik oleh Rrag. Konsep indie rock yang terkadang ceria dan suram, namun mempunyai kecerdasan tata dinamika tanpa harus memaksakan pada setiap departemen. Langit adalah potret relevan kehidupan kaum urban kelas menengah dengan pendekatan lebih seimbang.
9. Sajama Cut – COWABUNGA
Sebelumnya, maaf banget nih untuk ‘The Osaka Journals’ ataupun ‘Godsigma’ bisa minggir dulu karena album terbaik Sajama Cut muncul lewat COWABUNGA. Racikan segala bebunyian dalam sembilan trek bikin geleng-geleng kepala. Ditambahkan kekuatan lainnya pada penulisan lirik berkarakter yang selalu menawan oleh sang vokalis, Marchell Thee. Muterin sejak nomor pertama ‘HOMILI/MENATAP WAJAH TUHAN’ saja sudah nge-blend banget kalo COWABUNGA beneran gokil. Lanjutin sendiri dah sampai trek akhir, di mana kalian bisa memasuki universe baru dengan beragam eksplorasi memukau.
10. The Caroline’s – Mediocre Twenties in a Not-So-Metropolitan Setting
Trek bertaburan lantunan lirih yang dibalut dengan musik indie pop sederhana persembahan The Caroline’s. Suguhan soundtrack tepat untuk menikmati segala problematika masa muda ataupun hanya sekedar menemani perayaan kecil ketika berhasil keluar dari kesedihan mendalam. Fokus lain tertuju pada pemilihan judul-judul panjang hampir pada seluruh trek mengingatkan beberapa album dari Teen Suicide atau era album lawas milik The Saddest Landscape. Bangga sekali karya epik satu ini terlahir dari rekan-rekan scene pop Surabaya.