Altar Kelam Avhath Kembali Beresonansi dalam Kebengisan Debut LP ‘Self-titled’

Foto: Avhath I Teks: Fadly Zakaria.M

Setelah dengerin “amassed” rilis terlebih dahulu, jujur, saya senang ketika Avhath berbalik arah menyajikan konsep musikal yang cenderung bernafaskan seperti karya-karya lawas mereka, kemudian semua dimuntahkan lewat sembilan trek dalam rangkuman debut album penuh (LP) “Self-titled” pada 9 Oktober 2026.

Sejak berdiri tahun 2012 silam, hadirnya LP ini sebagai rilisan ke-17 bukti eksistensi luar biasa Avhath. Tidak mudah bagi band lokal untuk terus produktif dalam jangka waktu melebihi satu dekade.

Avhath menyebutkan bahwa semua dimulai dari panggilan kolektif daripada merencanakan sesuatu yang besar ataupun sangat diharuskan. Percaya akan insting mereka masing-masing untuk menyatukan segala arah, termasuk proses kreatif dibalik layar menyepakati bentuk audio dan visual dengan cermat. Gagasan sederhana dibangun dengan fondasi kejujuran bermusik adalah wujud orisinal lahirnya LP Avhath.

Saya merasa korelasi LP satu ini dengan rentetan rilisan mereka sebelumnya mencakup titik temu diantara pattern kebengisan old school black metal dan death metal. Namun, di satu sisi tidak lupa sedikit saja menyelipkan ramuan porsi post-black metal yang menjadi titik awal konsep Avhath. Mengingatkan komposisi EP “The Avhath Rites” serta beberapa single lawas yang sempat dirilis lewat split album. Beragam elemen tersebut berhasil membuka ruang baru untuk dikembangkan dengan matang.

Setelah mengulang secara berkala, saya beralih dari “amassed” masuk sebagai tiga trek favorit menuju “This Forlorn Being”, “Clawed Skins”, dan “Manic Visions”. Terlebih pada eksekusi part melodi gitar This Forlorn Being benar-benar menghantui. Selain itu, suka sekali karakter bass line yang nampol di kuping serta dominasi permainan blast beat kembali muncul hampir di seluruh trek. Nggak cukup itu saja, atmosfer tumpukan layer instrumental horor yang ditampilkan Avhath selalu bikin merinding. Potongan instrumental “Genesis” sama “Cinereal Gaze” tuh cocok banget dibuat scoring film juga sih.

Setelah ngobrol bareng pasca hearing session di Zodiac pada 6 Oktober 2026, berikut dua fakta menarik yang bisa saya bagikan. Pertama, Reynir, gitaris selaku komposer dan produser utama mencoba proses mastering di 7 sound engineer berbeda sampai pada akhirnya dipercayakan kepada Will Killingsworth (Dead Air Studios, MA) untuk format digital, dan format fisik dengan hasil lebih detail oleh Colin Marston (The Thousand Caves, NY). Kedua, proses rekaman drum kesembilan trek langsung dihajar hanya satu shift saja.

Altar kelam terus-menerus beresonansi tanpa henti. Hail!